IDENTITAS.CO.ID – Penggunaan istilah budaya dalam Antropologi lebih diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari. Suatu budaya – misalnya Budaya Indonesia – mengacu pada pola-pola perilaku yang ditularkan secara sosial, yang merupakan kekhususan kelompok sosial tertentu.
Soal pengertian budaya masih terjadi perdebatan diantara para pakar Antropologi. Mereka bahkan belum benar-benar konsisten dalam memakai konsep yang penting ini. Bebeberapa upaya untuk memberikan definisi menunjukkan beberapa segi budaya.
Berikat beberapa pengertian budaya menurut pakar Antropologi :
- Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Taylor 1871)
- Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. (Linton 1940)
- (Semua) rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun yang implisit, rasional, irasional, dan nonrasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia. (Kluckhohn dan Kelly 1945)
- Keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan – dan perilaku yang ditimbulkannya. (Kroeber 1948)
- Bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia. (Herskovits 1955)
- Pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol, yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perujudannya dalam benda-benda budaya. (Kroeber dan Kluckhohn 1952)
Budaya Sebagai Sistem Makna Yang Dimiliki Bersama
Budaya tidak terdiri dari benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dapat kita amati, hitung dan ukur : budaya terdiri dari gagasan-gagasan dan makna-makna yang dimiliki bersama-sama. Terkait hal ini, Clifford Geertz, meminjam dari pakar filsafat Gilbert Ryle, memberikan contoh menarik. Misalnya kedipan mata (tidak disengaja) dan kedipan mata yang disengaja. Sebagai peristiwa lahiriah, keduanya mungkin serupa – pengukuran keduanya tidak akan menemukan perbedaan. Yang satu adalah tanda, kode yang mengandung makna yang sama bagi orang Amerika (tetapi yang mungkin tidak akan bisa dimengerti oleh orang Eksimo atau Aborijin Australia). Hanya dalam kesemestaan makna yang dimiliki bersama, bunyi-bunyi dan peristiwa-peristiwa fisik bisa dipahami dan meneruskan informasi.
Budaya Sebagai Milik Publik
Pandangan tentang budaya masih jadi perdebatan seru bagi para pakar Antropologi masa kini. Seperti halnya Geertz, berpendapat bahwa budaya adalah sistem dari tujuan masyarakat, bukannya sandi perorangan di benak masing-masing anggota masyarakat.
Sumber Rujukan : Antropologi Budaya (Suatu Perspektif Kontemporer), Edisi Kedua Jilid 1, Roger M. Keesing, Alih Bahasa Samuel Gunawan, Penerbit Erlangga, tahun 1999.
